Jumat, 29 Juni 2012

DUO KRIBO ( Achmad Albar - Ucok AKA )

Duo Kribo Complete Album (1977-1978)
Era tahun 1970-an banyak sekali bermunculan grup-grup rock top tanah air, antara lain AKA, Rollies, Giant Step, Freedom of Rhapsodia, The Barong, SAS, Super Kid, dan God Bless. Band-band tersebut memiliki performa yang begitu spektakuler dan menggebrak panggung rock nusantara.
Namun sayang penjualan dari album-album grup tersebut kurang begitu bagus, kecuali God Bless, lewat album Huma di Atas Bukit (1975). Namun, ketika pentas rock nasional mulai dirundung paceklik dan grup-grup rock tersebut mulai sepi order, tiba-tiba dunia permusikkan nasional terutama rock dihebohkan dengan hadirnya duet maut antara Achmad Albar (God Bless) dengan Ucok Harahap (AKA). Mereka berdua bersekutu dalam Duo Kribo di tahun 1977.
Kolaborasi ini tentu saja menyita perhatian dari para fans keduanya serta para pecinta musik rock tanah air. Karena pada kenyataannya kedua rocker itu saling bersaingan apalagi mereka sama-sama mengusung musik cadas. Namun bagi produser mereka tidak memandang dari sisi itu, akan tetapi mereka melihat persamaan fisik yaitu sama-sama berambut kribo yang memang pada waktu itu menjadi tren bagi kawula muda.
Penasaran pecinta rock
Kolaborasi ini muncul ketika AKA alias Apotik Kali Asin pimpinan Ucok pecah dan Achmad dengan God Bless-nya mulai sepi order manggung. Duet ini memang sangat berhasil apalagi album-album Duo Kribo meledak di pasaran sampai terjual 100.000 kaset. Angka tersebut di era 1970-an sudah sangat fenomenal bagi ukuran musik rock yang memang waktu itu pasar jenis musik ini sangat kecil.
Keberhasilan album-album mereka didasarkan pada rasa penasaran para pecinta musik rock. Mereka ingin tahu seperti apa sih kalau duo superstar bersatu dalam satu album rekaman. Koki musik dari album-album Duo Kribo ditangani oleh gitaris God Bless, Ian Antono, yang dibayar Rp 300 ribu - untuk satu album. Duo Kribo memiliki 4 buah album yang semuanya meraih sukses besar. Album pertama bertajuk Duo Kribo Volume 1 (Irama Tara, 1977) terdiri dari 8 lagu yaitu 'Monalisa', 'Neraka Jahanam', 'Rahmat dan Cinta', 'Cukong Tua', 'Discotique', 'Wadam', 'Kenangan' dan 'Kami Datang
Album tersebut menghasilkan hits legendaris seperti 'Neraka Jahanam', 'Rahmat dan Cinta', dan 'Monalisa'. Lagu 'Neraka Jahanam' kemudian dipopulerkan kembali oleh penyanyi rock, Pungki Deaz, di era 1980-an yang termuat dalam Album 20 karya arranger, Ian Antono, (Musica Studio, 1999) serta oleh grup rock top saat ini, Boomerang dalam album Segitiga (Logis Record, 1998). Sementara itu, lagu 'Cukong Tua' dinyanyikan kembali oleh mantan penyanyi rock grup Dara Puspita, Titiek Hamzah, dalam album Tragedi (Jakson Record, 1982).
Sukses album pertama membuat Duo Kribo merilis Volume II (Irama Tara, 1978). Album ini terdiri dari 9 lagu, yaitu 'Pelacur Tua', 'Hidup Sederhana', 'Penari Jalang', 'Pacaran', 'Menunggu', 'Tertipu Lagi', 'Rumah Hantu', 'Fajar Menikam', dan Hujan. Ian Antono dalam album kedua ini mengajak sesama rekannya di God Bless, Yockie Suryoprayogo, untuk mempermanis lagu-lagu slow lewat sentuhan jarinya pada piranti keyboard.
Album kedua ini melahirkan hits legendaris seperti 'Penari Jalang' dan 'Pelacur Tua'. Lagu 'Fajar Menikam' dan 'Hujan' kembali dinyanyikan oleh Grace Simon dalam album Grace Simon 1979 (Musica Studio, 1979). Lagu 'Hujan' dan 'Tertipu Lagi' juga didaurulang oleh Achmad Albar, Nicky Astria, dan Ian Antono, dalam bentuk akustik yang tertuang dalam album Jangan Ada Luka (HP Record, 1996).
Pada tahun 2004, grup top era ini, GIGI, juga mendaurulang lagu 'Tertipu Lagi' yang tertuang dalam album Tribute To Ian Antono (Sony Music Indonesia, 2004). Album kedua Duo Kribo ini sempat menimbulkan kontroversi dalam spot iklan di TVRI terutama lagu 'Penari Jalang' dan 'Pelacur Tua'. Duo Kribo kembali meluncurkan Volume III Special Edition (Irama Tara, 1978) yang menghadirkan 8 lagu baru di side A. Yaitu 'Terkekang', 'Indahnya Cinta', 'Selamat Tidur Raja', 'Rayuan Harta, 'Penjual Jamu', 'Pantai Sunyi', 'Kenyataan', dan 'Nenek Antri Permen'. Di side B terdapat 8 lagu lama yaitu 'Tertipu Lagi', 'Pelacur Tua', 'Fajar Menikam', 'Penari Jalang', 'Monalisa', 'Neraka Jahanam', 'Rahmat & Cinta', dan 'Discotique'.
Film Duo Kribo
Sukses dengan 3 album membuat mereka dilirik oleh Perusahaan Film Intercine untuk membuat film Duo Kribo yang dirilis tahun 1978 dan disutradarai oleh Edward Sirait yang menampilkan Achmad Albar, Ucok Harahap, Grace Simon, dan Eva Arnaz. Film ini mengisahkan tentang dua saudara kembar yaitu Albar dan Ucok. Keduanya sama-sama berkecimpung dalam dunia musik.
Ucok yang diasuh dan dibesarkan di Medan merupakan penyanyi lagu-lagu melankolis sementara Albar yang dibesarkan di Jakarta dan sempat belajar serta bermain musik di Eropa adalah penyanyi lagu-lagu berirama cadas dan kembali ke Indonesia menebar ancaman bagi Ucok. Mereka akhirnya bertemu dan sama-sama memiliki banyak penggemar yang kemudian diduetkan oleh cukong musik di Indonesia.
Ketika film tersebut dikerjakan, mereka bersama Ian Antono juga membuat album keempat bertajuk Dunia Panggung Sandiwara (Musica, 1978). Album tersebut terdiri dari 11 lagu, yaitu 'Aku Harus Jadi Superstar', 'Duo Kribo', 'Uang', 'Panggung Sandiwara', 'Kenangan Elvis', 'Sang Cinta, 'Mencarter Roket', 'Ibu', 'Semut', 'Superstar', dan 'Anak Muda' (menampilkan Grace Simon) plus 2 buah instrumen yaitu insrumentalia 'Di Pantai Bina Ria' dan 'Air Port Halim'.
Album ini menghasilkan hits legendaris dan sangat terkenal sampai ke dataran ASEAN. Lagu tersebut adalah 'Dunia Panggung Sandiwara' yang liriknya ditulis oleh penyair tersohor Indonesia, Taufik Ismail. Lagu ini dijadikan sebagai salah satu master piece milik 'dewa gitar ASEAN', julukan bagi Ian Antono. God Bless sering membawakan lagu tersebut di setiap kali pementasan mereka.
Lagu tersebut juga pernah dipopulerkan kembali oleh Grace Simon, Nicky Astria, (alm) Nike Ardilla, Ramli Syarif (rocker Singapura), dan Sheila On 7. Lirik yang ditulis oleh Taufik Ismail begitu sederhana, tapi maknanya sangat dalam dan mampu diberikan sentuhan musik yang sangat indah oleh Ian Antono.
Rambah ke negara jiran
Keberhasilan album-album Duo Kribo tidak hanya di Indonesia akan tetapi merambah ke Malaysia dan Singapura. Album mereka sukses, karena musik Duo Kribo memang lebih simpel dan mudah dicerna apalagi lirik yang sebagian besar ditulis oleh Achmad Albar sangat pas untuk kawula muda era 70-an. Lagu-lagu Duo Kribo dianggap sebagai model lagu rock Indonesia. Namun sayang dari 4 album yang diluncurkan tidak ada kolaborasi yang istimewa. Vokal lebih banyak diisi oleh Achmad Albar (God Bless) sedangkan Ucok hanya menyesuaikan saja apalagi waktu itu Ucok harus bolak-balik Jakarta-Surabaya.
Proyek Duo Kribo hanya sebatas pada unsur persamaan fisik yaitu kedua-duanya sama-sama berambut kribo. Apabila mereka diduetkan secara serius oleh sang produser mungkin hasilnya akan lebih dahsyat. Sementara Achmad Albar, Ucok Harahap, dan Ian Antono, nampaknya juga terbentur masalah waktu. Seharusnya mereka tidak harus berpikir jauhnya jarak antara Jakarta - Surabaya. Memang betul apa yang pernah diutarakan oleh Achmad Albar bahwa suksesnya album-album Duo Kribo karena para fans Ucok 'AKA' Harahap dan Achmad Albar di samping faktor musik yang mudah dicerna.
Dominannya vokal Iyek (panggilan akrab Achmad Albar) memang menonjol sekali, namun tetap mampu membuat Duo Kribo berkibar di era 70-an. Proyek Duo Kribo mampu menggodok uang banyak, karena lebih komersil dan lebih diterima oleh para pecinta musik tanah air ketimbang album God Bless, AKA atau The Rollies.
Hal ini diakui oleh Albar dari God Bless dan Ucok dari AKA. Tahun 2001, duet ini sempat nongol lagi mengisi acara di salah satu stasiun televisi swasta bahkan pernah menyatakan akan rekaman lagi. Namun sayang itu semua hanya khayalan karena Iyek lebih mengutamakan God Bless ketimbang Duo Kribo.
Diskografi Duo Kribo
1977 : Duo Kribo Vol 1 (Irama Tara)
1978 : Duo Kribo Vol 2 (Irama Tara)
1978 : Duo Kribo Vol 3 (Irama Tara)
1978 : Panggung Sandiwara (Musica)
(Agustino/KPMI )

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

SAS - Complete Album (1976-1993)
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Puncak dari keretakan AKA terjadi ketika 7 Agustus 1975, Ucok meresmikan grup barunya di Jakarta dengan nama Ucok and His Gangs (Uhisga), yang bergerak dalam pertunjukan musik, model, dan tari. Ucok semakin sibuk dengan fashion show, nyanyi, dan tari. Ia pun mulai berubah. Lebih glamour dan tidak seperti ketika dirinya menjadi vokalis AKA.


Sunatha, Arthur, dan Syech Abidin akhirnya memutuskan untuk mendepak Ucok dari AKA dan mengganti nama AKA menjadi SAS (Sunatha Tanjung, Arthur Kaunang, Syech Abidin) pada akhir Desember 1975. Kiprah SAS ternyata tak mengecewakan. Hanya dua pekan sejak mereka membentuk SAS, mereka mendapat acungan jempol dari 15 ribu penonton di Taman Ria Monas Jakarta.

Satu bulan berikutnya SAS tampil dalam acara bertajuk Duel Hard Rock 76 di Istora Senayan dengan grup rock papan atas Indonesia Giant Step, asal Bandung. Sejak itu, nama SAS yang lebih mengutamakan kekompakan ketiga personilnya, mulai mencuat.
SAS pun ternyata berhasil ketika mereka memasuki dunia rekaman. Album perdana mereka Baby Rock sukses dipasaran. Bahkan lagu Baby Rock ini sempat masuk anak tangga radio Australia, mengikuti jejak lagu mereka terdahulu semasa di AKA, Crazy Joe.
Kelebihan SAS saat itu dibandingkan band-band rock lainnya, berani menampilkan lirik berbahasa Inggris. Kematangan mereka dalam bermusik baik di panggung maupun dipanggung semasa di AKA dulu, membuat album terakhir SAS yang berjudul Metal Baja/Suminah dijadikan sebagai 'masterpiece' musik rock Indonesia.
Seiring dengan popularitas SAS, Ucok pun tak mau kalah. Gagal dengan Uhisga nya, Ucok duet bareng dengan Ahmad Albar dalam 'Duo Kribo'. Melejitnya lagu 'Neraka Jahanam', membawa berkah bagi Ucok dan pasangannya Ahmad Albar. Kembali para pecinta musik rock pun seolah tersentak dengan kehadiran album ini, dengan mengandalkan aransemen musiknya oleh Ian Antono (gitaris God Bless). Nama Ucok AKA Harahap pun kembali dikenang lagi sebagai sosok yang fenomenal dalam musik rock. Memang, Ucok, merupakan sosok yang tidak pernah terlepas dari sumber -pemberitaan bagi media massa.
Selain aktif dengan 'Duo Kribo'nya, ia juga mulai merambah layar lebar sebagai pemain dengan peran-peran antagonis. Dalam film layar lebar bahkan ia sempat beradu akting dengan si Raja Dangdut Rhoma Irama dalam Film Darah Muda. Gagasannya untuk memadukan musisi rock dan jazz dalam satu grup yang dinamakannya Choksvanka merupakan ambisinya yang paling kreatif sejak lama. Namun, ide ini terealisir beberapa tahun kemudian dengan membentuk grup rekaman THE YUKAS, dengan menggandeng musisi jazz Jopie Item, Karim Suweileh, dan menghasilkan satu album yang berjudul 'Jalan-Jalan', yang menampilkan nomor-nomor lagu pop sederhana.
Namun, selaras dengan perkembangan musik rock Indonesia, keinginan para personil AKA untuk sekadar bernostalgia dalam dunia rekam membuahkan satu album yang berjudul 'Puber Kedua' (1997). Beberapa nomor hits mereka semasa di AKA dirilis kembali dengan tambahan satu lagu baru Puber Kedua yang aransemennya justru dibuat Ian Antono.
Namun, keinginan untuk mengembalikan nama AKA pun pupus ketika Ucok membentuk band baru bernama Warrock. Sayangnya, upaya Ucok untuk mengembalikan kejayaannya tak berhasil. Dalam salah satu pentas di Stadion Siliwangi Bandung, Ucok yang menampilkan atraksinya dipanggung justru disambut dingin oleh penonton. Malah SAS yang juga tampil di panggung itu malah mendapat aplaus yang cukup meriah.
SAS mulai mengurangi aksi panggungnya memasuki dekade tahun 90 an. Faktor usia membuat ketiga personil ini memilih kesibukan yang lain. Meski demikian, Arthur Kaunang masih sempat berkolaborasi dengan beberapa musisi seangkatannya mengisi pentas acara musik rock di beberapa pertunjukkan di Jakarta, selain sempat menjadi seorang produser merangkap penata musik untuk penyanyi jazz & blues Endi Xirang di tahun 2003. Namun, beberapa tahun terakhir ia lebih mendalami musik-musik rohani sebagai pengabdiannya bermusik.
Menurut pengakuan Syech Abidin, sebenarnya baik AKA maupun SAS ini belum bubar. Tetapi, niat untuk menghidupkan kembali grup-grup yang telah membawa mereka menjadi orang 'terkenal' di Tanah Air masih belum kelihatan. Apalagi, mengingat Sunatha Tanjung sudah tidak mau bermain musik lagi dan lebih mendalami masalah kerohanian sebagai pendeta. Termasuk Syech Abidin, yang mengaku sudah lupa dan malah hampir tidak pernah bersentuhan dengan dunia musik lagi beberapa tahun terakhir.
(Republika 7 & 14 Agustus 2006)

DISKOGRAFI


01 Baby Rock (vol 1 ) 1976

02 Bad Shock (vol 2 ) 1976
03 SAS vol 3 1977
04 Lapar (vol 4) 1977
05 Exception 1978
06 Sentuhan Cinta 1978
07 POP & ROCK Indonesia vol 1 1979
08 Kasmaran (POP & ROCK Indonesia vol 2 ) 1979
09 SAS 80
10 SAS 81
11 Sansekerta 1984
12 Episode Jingga 1986
13 Sirkuit 1987
14 Metal Baja 1993
15 Laila,Dang Dut SAS
16 Baby Rock,The Best of SAS 1990
17 Instrumentalia
18 20 Golden Hits
19 SAS POP Attack